    {
      "date": "2026-01-01",
      "corp_creators": [
        "Universitas Bojonegoro"
      ],
      "full_text_status": "public",
      "title": "Manajemen Pemulihan Ekosistem Cagar Alam Gua Nglirip",
      "type": "article",
      "refereed": "TRUE",
      "volume": 20,
      "uri": "https://repository.unigoro.ac.id/id/eprint/4873",
      "pagerange": "122-129",
      "lastmod": "2026-05-06 02:30:01",
      "publisher": "Konservasi Hayati",
      "rev_number": 11,
      "metadata_visibility": "show",
      "creators": [
        {
          "name": {
            "lineage": null,
            "given": "Tyas",
            "family": "Tria Agustining Tyas",
            "honourific": null
          }
        },
        {
          "name": {
            "lineage": null,
            "given": "Rahmawati",
            "family": "Laily Agustina Rahmawati",
            "honourific": null
          }
        }
      ],
      "ispublished": "pub",
      "datestamp": "2026-05-06 02:30:01",
      "userid": 16,
      "divisions": [
        "il"
      ],
      "issn": "2722-1113",
      "number": 2,
      "eprintid": 4873,
      "keywords": "Cagar Alam Gua Nglirip, Flora, Konservasi, Pemulihan ekosistem",
      "abstract": "Cagar Alam Gua Nglirip awalnya merupakan kawasan konservasi yang kaya akan flora asli, seperti Beringin (Ficus benjamina) dan Preh (Ficus ribes). Namun terjadi beberapa kerusakan yang menyebabkan hilangnya flora asli di kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen pemulihan ekosistem di Cagar Alam Gua Nglirip, dengan fokus pada rehabilitasi flora asli. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara dan studi dokumen dari narasumber kunci serta laporan resmi. Proses pemulihan ekosistem dilakukan pada dua blok rehabilitasi dengan luas total 20.504 m\u00b2. Upaya pemulihan ekosistem melibatkan penanaman kembali jenis flora asli yang hilang, seperti Beringin dan Preh, dengan penanaman 836 bibit di kedua blok rehabilitasi. Namun, tantangan seperti kebakaran, kemarau panjang, gangguan habitat satwa dan kurangnya monitoring dan evaluasi terutama dalam dokumentasi data pertumbuhan tanaman menyebabkan keterlambatan dalam proses pemulihan ekosistem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat kemajuan, perbaikan manajemen dan pelaksanaan yang lebih baik dibutuhkan untuk keberhasilan jangka panjang.",
      "dir": "disk0/00/00/48/73",
      "documents": [
          {
            "format": "text",
            "security": "public",
            "date_embargo_retained": "2031-01-01",
            "pos": 1,
            "main": "LIT 2024 November Tria Agustining Tyas, Laily Agustina Rahmawati.pdf",
            "files": [
                {
                  "filename": "LIT 2024 November Tria Agustining Tyas, Laily Agustina Rahmawati.pdf",
                  "datasetid": "document",
                  "uri": "https://repository.unigoro.ac.id/id/file/61039",
                  "hash_type": "MD5",
                  "mtime": "2026-05-06 02:26:32",
                  "filesize": 736867,
                  "mime_type": "application/pdf",
                  "fileid": 61039,
                  "objectid": 11533,
                  "hash": "ff5c88127200726879dd5022b2cc9ca4"
                }
            ],
            "eprintid": 4873,
            "uri": "https://repository.unigoro.ac.id/id/document/11533",
            "placement": 1,
            "rev_number": 2,
            "date_embargo": "2031-01-01",
            "mime_type": "application/pdf",
            "language": "en",
            "docid": 11533
          }
      ],
      "subjects": [
        "TD"
      ],
      "status_changed": "2026-05-06 02:30:01",
      "eprint_status": "archive",
      "publication": "Konservasi Hayati"
    }