%0 Generic %A Heri Mulyanti, Mulyanti %A Solikhati Indah Purwaningrum, Purwaningrum %A Ya Lathief Ade Dirgantara Putra, Putra %A Akbar Andis Saputra, Saputra %A Bayu Prastiyo, Prastiyo %A Universitas Bojonegoro, %D 2026 %F repository:4966 %I LPPM UNIVERSITAS BOJONEGORO %K pupuk banjir; persepsi; perubahan iklim; irigasi %T Laporan Akhir Penelitian Internal Dosen : Studi Adaptasi Perubahan Iklim Pada Wilayah Pertanian Rawan Banjir Di Kabupaten Bojonegoro %U https://repository.unigoro.ac.id/id/eprint/4966/ %X Pertanian merupakan sektor yang paling awal terdampak oleh adanya perubahan iklim. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bojonegoro dengan mengambil sampel wilayah dekat dengan aliran Sungai Bengawan Solo rawan banjir. Penelitian bersifat kuantitatif deskriptif untuk: a) mengidentifikasi persepsi petani pada wilayah rawan banjir tentang perubahan iklim serta dampak yang dialami; b) mengidentifikasi adaptasi yang telah dilakukan dan strategi keberlanjutan sektor pertanian. Penelitian dilakukan menggunakan kuesioner berskala Likert 1-5. Total sampel penelitian adalah 100 responden yang tersebar pada 4 desa, meliputi Desa Mulyorejo, Desa Kedungrejo, Desa Cangaan, dan Desa Lebaksari yang rawan terjadi banjir. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa petani didominasi usia dewasa usia >45 tahun serta pendidikan sekolah dasar. Berdasarkan pengalaman petani, hasil pertanian selalu menurun dari tahun ke tahun. Persepsi petani terhadap perubahan iklim tinggi pada indikator suhu. Petani pada wilayah rawan banjir secara umum tidak dapat menyaksikan perubahan hujan, intensitas, frekuensi disebabkan air tersedia sepanjang tahun. Meskipun hama dan penyakit tanaman sering terjadi, petani tidak menganggap bahwa kejadian banjir berasosiasi langsung dengan hama dan penyakit tanaman. Beberapa bentuk adaptasi yang diterapkan antara lain: mencari informasi tentang banjir, mencari informasi kapan musim penghujan, dan menambahkan pupuk saat banjir. Meskipun hasil pertanian turun dan ancaman iklim, petani menganggap bahwa pertanian di lahan tersebut dapat diwariskan. Hal ini menunjukkan bahwa lahan rawan banjir meskipun rentan tetapi memiliki kemungkinan untuk lestari. Penelitian ini mengungkap bahwa kesadaran kolektif diperlukan untuk menghadapi perubahan iklim pada wilayah rawan banjir.