<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Laporan Akhir Penelitian Internal Dosen : Analisis Kinerja Elemen Hingga Pada Jembatan Beton Pratekan Pascatarik Bergrouting Dengan Kondisi Tumpuan Sendi-Rol</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Santoso</mods:namePart><mods:namePart type="family">Toni Budi Santoso</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Ikhwan</mods:namePart><mods:namePart type="family">M. Zainul Ikhwan, S.T., M.T</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Sariroh</mods:namePart><mods:namePart type="family">Jamilatus Sariroh</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi kinerja struktur balok beton pratekan metode pascatarik (post-tensioned) pada jembatan bentang 40 m dengan sistem perletakan sendi–rol. Perencanaan struktur mengacu pada ketentuan Badan Standardisasi Nasional melalui SNI 1725:2016 untuk pembebanan jembatan serta SNI T-12-2004 untuk ketentuan beton pratekan. Analisis dilakukan terhadap tiga kondisi utama, yaitu kondisi jacking, kondisi sebelum komposit (pengecoran pelat), dan kondisi komposit pada beban layan penuh. Hasil analisis menunjukkan bahwa penampang non-komposit memiliki momen inersia sebesar 5,93 × 10¹¹ mm⁴ yang meningkat menjadi 8,63 × 10¹¹ mm⁴ setelah bekerja secara komposit dengan pelat lantai, atau mengalami peningkatan kekakuan sekitar 45%. Momen maksimum akibat kombinasi beban mati dan beban hidup diperoleh sebesar 13,64 × 10⁹ Nmm di tengah bentang. Kontrol tegangan menunjukkan bahwa kondisi kritis terjadi pada serat bawah balok. Gaya prategang maksimum yang memenuhi batas tegangan izin adalah sebesar 11.403,74 kN, sedangkan gaya prategang efektif setelah memperhitungkan kehilangan prategang sebesar 23,39% adalah 8.618,28 kN. Seluruh tegangan yang terjadi pada kondisi awal maupun layan masih berada dalam batas tegangan izin tekan dan tarik yang dipersyaratkan standar. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem balok beton pratekan pascatarik yang direncanakan memenuhi persyaratan kekuatan dan layanan untuk bentang 40 m. Peningkatan kapasitas lentur akibat aksi komposit terbukti signifikan dalam meningkatkan performa struktur dan mengontrol tegangan tarik pada serat bawah balok.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Prodi Teknik Sipil</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2026-01-01</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>LPPM UNIVERSITAS BOJONEGORO</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Other</mods:genre></mods:mods>