%0 Thesis %9 Bachelor %A Angga Zaenal Ramadhani, Ramadhani %A Universitas Bojonegoro, %B Teknik Sipil %D 2026 %F repository:6325 %I Sains dan Teknik %K hubungan balok–kolom, jarak sengkang, kapasitas geser joint, daktilitas, SNI 2847:2019, SRPMK. %T Evaluasi Jarak Sengkang Pengekang pada Hubungan Balok Kolom Berdasarkan SNI 2847:2019 pada Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (Srpmk) %U https://repository.unigoro.ac.id/id/eprint/6325/ %X Hubungan balok–kolom merupakan elemen penting pada Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) karena berperan dalam menjamin kinerja struktur terhadap beban gempa. Salah satu faktor yang memengaruhi kinerja sambungan adalah jarak sengkang pada daerah kritis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku hubungan balok–kolom dengan variasi jarak sengkang berdasarkan SNI 2847:2019, mengevaluasi pengaruhnya terhadap kapasitas geser joint dan daktilitas struktur, serta menentukan keoptimalan konfigurasi jarak sengkang. Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimen laboratorium dengan pembebanan bertahap hingga kondisi ultimit pada spesimen hubungan balok–kolom beton bertulang berdimensi balok 150 × 250 mm. Konfigurasi sengkang yang digunakan terdiri atas jarak 50 mm pada daerah sambungan balok–kolom, 100 mm sepanjang 1,2 m pada daerah transisi, dan 150 mm pada daerah luar plastis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retak berkembang secara bertahap dan didominasi retak lentur pada balok tanpa terjadi retak diagonal pada daerah joint. Kapasitas geser nominal sambungan sebesar 244,44 kN dengan kapasitas geser rencana (φVn) sebesar 183,33 kN, sedangkan gaya geser maksimum hasil pengujian sebesar 49,47 kN sehingga diperoleh rasio Vu/φVn sebesar 0,27 yang menunjukkan kapasitas geser joint masih aman. Analisis daktilitas menggunakan metode Equivalent Elastic Perfectly Plastic (EEEP) menghasilkan rasio daktilitas perpindahan (μΔ) sebesar 2,53. Evaluasi terhadap SNI 2847:2019 menunjukkan bahwa konfigurasi sengkang memenuhi persyaratan detailing pada daerah kritis, mampu mengendalikan perkembangan retak, mempertahankan kapasitas geser sambungan, serta menghasilkan mekanisme keruntuhan sesuai konsep strong column–weak beam. Dengan demikian, konfigurasi variasi jarak sengkang 50 mm, 100 mm, dan 150 mm efektif meningkatkan kinerja hubungan balok–kolom pada SRPMK. %Z 22222011045