<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Pemanfaatan Limbah Low Density Polyethylene Sebagai Pengganti Sebagian Aspal dan Abu Bonggol Jagung Sebagai Pengganti Sebagian Dari Filler</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Dharmawan</mods:namePart><mods:namePart type="family">Setyo Nur Dharmawan</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Meningkatnya volume limbah plastik Low Density Polyethylene (LDPE) dan limbah pertanian berupa bonggol jagung yang belum banyak dimanfaatkan mendorong perlunya alternatif pengelolaan yang lebih produktif, salah satunya dengan mengolahnya menjadi bahan substitusi pada konstruksi perkerasan jalan. Penelitian ini berangkat dari gagasan tersebut, dengan menguji sejauh mana LDPE dapat menggantikan sebagian aspal dan abu bonggol jagung (ABJ) dapat menggantikan sebagian Filler pada campuran Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC), sekaligus mencari kombinasi kadar yang paling ideal agar tetap sesuai dengan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 (Revisi II Divisi 6). Pengujian dilakukan dengan metode Marshall pada Kadar Aspal Optimum awal sebesar 6,4%, menggunakan tiga variasi kadar ABJ yaitu 2%, 3%, dan 4% dari berat Filler, yang masing-masing dipadukan dengan kadar LDPE 3%, 4%, dan 5% dari berat aspal. Dari hasil pengujian terlihat bahwa semakin besar kadar LDPE yang ditambahkan, nilai stabilitas dan Marshall Quotient cenderung semakin menurun di ketiga variasi, sementara pengaruhnya terhadap rongga dalam campuran (VIM, VMA, VFA) ternyata tidak seragam dan sangat bergantung pada seberapa besar kadar ABJ yang digunakan. Nilai VIM pada akhirnya menjadi penentu utama batas kelayakan campuran: pada kombinasi ABJ 2% dan ABJ 3%, nilai ini melewati batas atas 5% begitu kadar LDPE mencapai 5%, masing-masing naik hingga 6,89% dan 5,11%, sedangkan campuran dengan ABJ 4% justru masih memenuhi seluruh parameter meski kadar LDPE sudah dinaikkan sampai 5%. Berdasarkan temuan ini, Kadar Penambahan Optimum yang berhasil diidentifikasi adalah 4,2% untuk campuran ABJ 2%, 4,8% untuk ABJ 3%, dan 5% untuk ABJ 4%, dengan kombinasi ABJ 4% dan LDPE 5% terbukti menjadi yang paling optimal karena mampu menyerap proporsi limbah paling banyak tanpa mengorbankan kinerja campuran.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Prodi Teknik Sipil</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8601">2026-07-29</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Sains dan Teknik;Teknik Sipil</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>