Fina Anista Kuntiwi, Kuntiwi(2025) Urgensi Dan Tantangan Pembentukan Kementerian Masyarakat Hukum Adat Di Indonesia (Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 67/PUU-XXII/2024). [Skripsi]
![[thumbnail of ABSTRAK FINA ANISTA KUNTIWI.pdf]](https://repository.unigoro.ac.id/style/images/fileicons/text.png)
ABSTRAK FINA ANISTA KUNTIWI.pdf
Restricted to Repository staff only until 31 December 2029.
Download (1MB) | Request a copy
![[thumbnail of BAB I.pdf]](https://repository.unigoro.ac.id/style/images/fileicons/text.png)
BAB I.pdf
Restricted to Registered users only until 31 December 2029.
Download (74kB) | Request a copy
![[thumbnail of BAB II.pdf]](https://repository.unigoro.ac.id/style/images/fileicons/text.png)
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only until 31 December 2029.
Download (225kB) | Request a copy
![[thumbnail of BAB III (2).pdf]](https://repository.unigoro.ac.id/style/images/fileicons/text.png)
BAB III (2).pdf
Restricted to Registered users only until 31 December 2029.
Download (215kB) | Request a copy
![[thumbnail of BAB IV (1).pdf]](https://repository.unigoro.ac.id/style/images/fileicons/text.png)
BAB IV (1).pdf
Restricted to Registered users only until 31 December 2029.
Download (298kB) | Request a copy
Abstract
Kementerian merupakan institusi pemerintah yang memiliki tanggung jawab untuk menjalankan tugas-tugas tertentu dalam sistem pemerintahan suatu negara. Lembaga ini umumnya dipimpin oleh seorang menteri yang ditunjuk oleh Presiden atau kepala pemerintahan. Penelitian ini mengacu pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 67/PUU-XXII/2024, penelitian ini mengkaji Urgensi Dan Tantangan Pembentukan Kementerian Masyarakat Hukum Adat di Indonesia. Putusan tersebut menolak pembentukan kementerian khusus ini, beralasan bahwa hal itu dapat menyebabkan tumpang tindih kewenangan dengan kementerian yang sudah ada. Penelitian ini menggunakan pendekatan hukum normatif dan menemukan bahwa pembentukan kementerian khusus dapat menyelaraskan kebijakan lintas sektor. Mahkamah Konstitusi dalam Putusan No. 67/PUU-XXII/2024 menolak judicial review UU No. 39/2008, menilai pembentukan Kementerian Masyarakat Hukum Adat berisiko tumpang tindih kewenangan dan membebani birokrasi. Perlindungan masyarakat adat dinilai cukup melalui koordinasi antar kementerian, sementara pembentukan kementerian adalah hak prerogatif Presiden. Namun, urgensinya tetap tinggi karena ketidakpastian hukum dan regulasi yang tumpang tindih. Tantangannya mencakup konflik kewenangan, resistensi ekonomi, dan kebutuhan kebijakan yang fleksibel. Strategi komprehensif diperlukan agar efektif tanpa menghambat pemerintahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kementerian ini dapat meningkatkan koordinasi, kebijakan, dan perlindungan hukum bagi masyarakat adat, namun resistensi pemerintah dan potensi duplikasi wewenangan menjadi tantangan utama alternatif yang lebih realistis adalah penguatan koordinasi antar kementerian atau pembentukan badan khusus terkait.
Item Type: | Skripsi |
---|---|
Additional Information: | 21742011101 |
Uncontrolled Keywords: | Urgensi, Tantangan, Kementerian, Masyarakat_Hukum_Ada |
Subjects: | Skripsi UNIGORO > Prodi Hukum |
Divisions: | Fakultas Hukum > Prodi Hukum |
Depositing User: | FINA ANISTA 21742011101 |
Date Deposited: | 13 Feb 2025 07:32 |
Last Modified: | 13 Feb 2025 07:32 |
URI: | https://repository.unigoro.ac.id/id/eprint/279 |